Minggu, 22 Januari 2017

Jenuh

Aku percaya kalau setiap manusia punya titik jenuh. Entah itu pada pasangannya, hobinya atau kehidupannya sekalipun. Rasa yang tidak bisa dihindari namun akan selalu menghampiri. Saat sesuatu menjadi rutinitas, lambat laun manusia akan merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah monokrom. Sepi. Hanya ada hitam dan putih.
Sama halnya dengan yang kupikir sedang kamu rasakan padaku.

Mungkin kamu tengah jemu pada setiap pesanku yang rutin mampir di notifikasi telepon pintarmu tiap Jum’at petang. Mungkin kamu lelah dengan namaku yang selalu muncul di sana. Mungkin kamu bosan dengan cerita-cerita yang sudah sering sekali mengalir dari mulutku.

Tak apa, aku paham. Yang kamu rasakan sangatlah manusiawi. Kamu manusia, bukan?
Satu hal lain yang aku yakini adalah, bahwa setiap titik jenuh memiliki titik jenuhnya sendiri. Kelak kamu akan kembali saat rasamu telah mencapai puncak. Selama itu aku akan diam dan menanti. Tak akan kuganggu dirimu dengan hal-hal yang tak perlu.

Satu bulan
Dua bulan
Tiga bulan

Kamu mulai asyik dengan dunia baru yang tanpa ada aku. Kupikir aku harus menunggu sampai enam bulan dan menyambut kembalinya dirimu.

Delapan bulan
Sembilan bulan
Sepuluh bulan

Aku mulai bermain dengan harapan, dan kamu masih sibuk dengan dirimu. Pelan-pelan kusingkirkan sesuatu yang pernah kuyakini, bahwa kamu akan kembali.


Meski begitu anganku akan tetap terjaga, agar sewaktu-waktu saat kamu pulang, aku bisa meraih dan meletakannya tepat di hatimu.

Jumat, 18 November 2016

jangan salahkan aku yang tak bisa lagi mengingat semua yang indah-indah tentang kita.
jangan salahkan manusia manapun atas rasa benciku padamu.
karena ada Tuhan, 
yang mampu menyadarkan dan mengubah.

dan sekarang aku sudah terbangun,
mataku terbuka lebar,
untuk melihat setan yang lama bersemayam dalam jasadmu.

tak ada dendam.
hanya benci.
hanya marah.
tak perlu dendam.
karena aku tahu yang kamu lakukan bukan atas kehendakmu.

menjauhlah,
aku tak mau setan itu kembali membayangi sadarku.

Kamis, 03 November 2016

Gaya Bebas

Dulu, aku ingin kita seperti ini. Bertemu. Dengan aku yang mengenakan gaun abu, dan kamu yang memakai jas biru.

Gaun ini terasa sangat mewah untuk dikenakan di balkon apartemenmu. Terlalu mewah, maksudku. Kita tidak sedang menghadiri pesta yang berisi sosialita. Lantas mengapa kau undang aku dengan kode busana seperti ini?

Kamu tersenyum  tanpa menoleh. Matamu lurus menghadap ke depan. Tak ada yang bisa kamu tatap selain gedung-gedung pencakar langit dengan semarak lampunya. Membuat kota ini terlihat sangat indah.
Sejak masih sekolah, berada dan tinggal di tempat semacam ini adalah impianku. Aku suka melihat pemandangan kendaraan dan lampu kota dari atas. Membuatku merasa tinggi. Merasa kalau semua hal yang ada di dunia ini adalah kecil, kecuali aku seorang.
Dan sekarang aku berada di sini. Di lantai 18 kamar apartemenmu.

Aku ingin hari ini kita terlihat spesial, jawabmu nyaris tanpa suara.

Keningku kontan berkerut saat mendengar ucapanmu. Aku menoleh, memperhatikan wajah yang beberapa belas sentimeter lebih tinggi dari kepalaku itu.

Terlihat oleh siapa? Siapa yang akan melihat kita sedangkan hanya ada kita berdua di sini.

Oleh kamu dan aku di masa depan. Jangan biarkan mereka menyesal karena pertemuan pertama kita yang tidak istimewa.

Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya sambil tertawa.

Kamu tahu, apa yang lebih spesial dari pakaian kita malam ini? Tanyaku setelah tawa itu reda.

Kepalamu menggeleng dua kali.

Itu adalah kamu. Raga, jiwa dan hatimu jauh lebih spesial dari apa yang kamu ciptakan sekarang.

Kamu diam, lalu tertawa.

Aku juga.

3 November 2016 (22:00)

Rabu, 19 Oktober 2016

Untuk yang Telah Pergi dan Masih Berada di Sisi

Saya percaya, setiap orang yang hadir dalam hidup saya bukanlah tanpa alasan. Tuhan mempertemukan saya dengan mereka untuk sebuah pelajaran. Sepahit atau semanis apapun kisahnya adalah bentuk kasih sayang-Nya pada saya. 

Melupakan mereka yang telah berkunjung bukanlah hal yang mudah untuk saya. Tak peduli sesingkat apapun pertemuan saya dengan mereka, saya selalu merasa berkewajiban untuk mengingatnya. Mulai dari yang hanya sekedar kerlingan mata, sampai sebuah pelukan. Semua hal itu memiliki hak untuk diingat, sekecil apapun porsi mereka dalam perjalanan hidup saya.

Mereka yang telah didatangkan Tuhan adalah hal-hal baik, saya percaya itu. Tugas saya ketika mereka pergi adalah menggenggam segala pelajaran dan kenangan yang tertinggal, memasukkannya ke dalam kotak, lalu menutupnya rapat-rapat. Sesekali saya akan membuka kotak itu, untuk mengembalikan saya pada tempat di mana seharusnya saya berada, saat saya kembali hilang arah.

"People may come and go, but the lessons and the memories will last forever."


19/10/2016 (10.30 PM)

Rabu, 14 September 2016

Selamat Datang Kembali!

Aku menjejakkan kaki di sekotak tanah berpendar keemasan. Tanpa sadar kuhela napas. Ternyata aku sudah sampai di sini. Di titik nol. Di mana seharusnya aku berada. Aku menoleh pada arah sebaliknya, mencoba menemui pijakan yang sebelumnya menjadi media dari ringkihnya keberadaanku. Yang kulihat tak lebih dari gelap dan sunyi yang meraja. Aku kembali menengok ke depan sambil bergidik ngeri. Di hadapanku hanya ada embun pekat keabuan, membuat samar siapapun yang memandangnya. Kuat-kuat kupejamkan mata, pelan-pelan kulangkahkan kaki menuju kotak berikutnya. Semakin sering langkah kupijak, semakin silau pandang yang kupejam. Takut-takut kubuka mata. Bibirku bergetar, hatiku meleleh. Aku bersinar. Aku bercahaya. Seluruh tanah ini menjadi keemasan karena langkahku!
Aku terus berlari menyusuri jalan yang seharusnya kutuju. Lurus terus, tanpa menoleh, tanpa berbelok. Dari jauh kulihat bayangan samar. Lama-lama bayang itu kian jelas. Ia meninggi, meramping, dan membentuk wujud seorang manusia. Kulihat ia mengulurkan tangan. Langkahku terhenti seiring dengan genggamannya.
“Kamu sudah pulang,” katanya. “Selamat datang kembali.”
Ia tersenyum. Memeluk hangat hatiku.


15/9/2016 (1:04)

Kamis, 08 September 2016

Hidup Baru

Aku melangkah, menjejakkan kaki di pekarangan rumah.
Kulihat gulma yang tingginya melebihi pagar.
Kudengar bunyi daun bergemerisik.
Bukan karena angin, bukan pula karena hujan.
Ada binatang sedang merayap, yang kutak tahu itu apa.
Tanpa kaki, hanya tubuh.
Entah ular, entah biawak.

Aku melangkah lagi, berusaha menghalau rintang.

Dari teras rumah, kulihat ada Ibu.
Kulihat ada Ayah.
Kulihat ada Kakak.
Kulihat ada kamu.
Sedang menyambutku, memelukku, mengecupku.

Aku mematung.

Aku sudah pulang.
Aku kembali.
Aku tiba.


Aku di rumah.


Bogor, 8 September 2016
menyambut kepulangan diri,
yang telah lama pergi.

Senin, 29 Agustus 2016

Been Here

I'm wondering about how things change.

Bayangkan, kemarin adalah hari di mana duniamu begitu menyenangkan. Tenang, aman, damai dan indah. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, meski hanya dalam imaji. Kamu dapat dengan mudah terbang bebas di angkasa, berdiri di puncak pelangi, mengapung bersama awan. Apapun terasa mudah dan tentram. 
Masalahmu hanya satu: you did it all just by yourself and you started to feel so alone.

Kemudian kamu berharap untuk segera memiliki 'teman', lalu kamu berdoa, menutup mata, dan esoknya.....semua berubah.

Duniamu yang tadinya indah perlahan-lahan hancur. Tak ada lagi ketenangan yang kamu rasakan. Tak ada lagi jutaan imajinasi dalam benak. Apapun yang terjadi padamu, kamu sesali.

Then you start to blame yourself. Everybody told you not to do that. But you can't. You keep blaming. 


Pic source: https://www.pinterest.com/coco77777/feelings/