Kamis, 07 Maret 2013

Usia

A: Semalam ayahmu sakit. Kuberi saja obat jantung, rupanya manjur.
B: Hmm.
A: Aku membayangkan bila ia meninggal. Kita akan berdua di rumah sebesar ini.
B: Ck, jangan berbicara seperti itu.
A: Jika ia meninggal, siapa yang akan mengisi kamarnya?
B: Tentu saja dirimu.
A: Tapi bisa saja aku mati duluan, maka ia yang akan tinggal berdua denganmu.
B: Sudahlah.
A: Tak ada yang tahu batas usia seseorang.
B: Ya, dan bisa saja aku yang lebih dulu mati.
A: Tak ada yang tak mungkin, bukan?


(Percakapan tentang masa depan ini dilakukan di dapur, tanggal 7 Maret 2013)

Rabu, 06 Maret 2013

Ohashi Trio - Lovely



I can't stop smiling while watching this MV. They are really cute, Ohashi Trio is awesome, and this video is lovely! :D

Move On



Pernah jatuh cinta pada tokoh dalam novel? Pasti pernah, dan pasti banyak pula yang mengalami ini.
Pernah jatuh cinta pada tokoh dalam novel sampai 7 tahun lamanya? Pernahkah?

Saya bukan tipe orang yang suka membaca satu buku sampai berulang-ulang (kecuali buku komik). Mengulang untuk membaca menurut saya sama saja dengan nggak bisa move on. Tapi itu dulu, sebelum saya mencoba untuk membaca buku di atas. Dan saya memang nggak pernah bisa move on dari buku itu.

Judulnya Diary Minni, karangan M. Irfan Hidayatullah. Bukunya tipis, nggak lebih dari 151 halaman, tapi tokoh-tokohnya selalu membuat saya susah tidur.

Pertama dibeli tanggal 3 Juni 2006. Saya yang waktu itu masih kelas 2 SMP membaca Diary Minni dengan penuh nafsu. Tiga jam nonstop. Tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa rasa pegal walaupun harus berada dalam posisi yang sama selama berjam-jam. Saya tahu, tiga jam bukanlah waktu yang singkat untuk membaca novel setipis itu. Tapi tiap kata yang ada di sana membuat saya betah dan ingin terus berlama-lama.

Dari awal membaca, saya sudah menyukai tokoh utamanya: Muhammad Zaky alias Miky. Di sana tokoh Miky dideskripsikan sebagai lelaki yang dingin, kaku, penyendiri, rajin beribadah, dan lebih senang berteman dengan sastra. Dia sama sekali tidak terbawa arus pergaulan sahabat-sahabatnya yang 'nakal'. Miky memiliki dunianya sendiri, bersama setumpuk buku tebal dan imajinasi.

Saat itu juga saya jatuh cinta pada Miky.

Saya suka pada segala hal yang ada dalam diri Miky, saya berharap dapat bertemu dengan Miky, saya ingin memiliki pasangan seunik Miky, saya cinta Miky, pokoknya saya mau Miky!

Namun seluruh hasrat saya akan langsung menguap ketika kembali menyadari bahwa Miky tak pernah ada. Dia hanya tokoh yang terpaksa menjadi khayalan penulisnya dan (mungkin) beribu-ribu atau setidaknya beratus-ratus pembacanya. Miky tidak hanya hidup dalam pikiran saya. Ia tumbuh di kepala banyak orang.

Tapi saya memang bukan orang yang mudah untuk move on. Saya masih yakin kalau suatu saat nanti akan bertemu dengan 'Miky'.

Iya, kamu, Miky. Selamat malam ya untuk kamu.

Sabtu, 02 Maret 2013

Do You Know Me?



"It's just the strangest thing  
I've seen your face somewhere  
An early evening dream  
A past-life love affair"

Cerita Lucu

Bocah 11 tahun itu tampak bersemangat ketika mencoba mengulang sebuah kisah yang  ia dengar tadi siang. Kisah yang sederhana, namun dapat membuat seisi bus tergelak.
Suara bocah itu bersahut-sahutan dengan bunyi deru mesin kendaraan beroda empat yang saat ini ia tumpangi. Di sampingnya ada seorang pria jangkung yang masih setia mendengar kisahnya. Sesekali senyuman tipis tersungging dari bibirnya yang tak kalah tipis.
Tak lama kemudian, ia menyudahi cerita yang kadang diselingi oleh kegeliannya sendiri. Lelaki di sampingnya tertawa kecil sebelum memberikan respon.
"Kamu tahu sesuatu?" tanya lelaki itu, mengawali kata dengan tanya.
"Apa?"
"Di dunia ini ada orang yang lucu jika bercerita, dan ada pula yang tidak."
"Lalu?"
Lelaki di sebelahnya hanya menjawab dengan senyuman, senyuman yang mampu mengatupkan rapat-rapat bibir bocah 11 tahun itu.

Mulai saat itu, ia bersumpah untuk tidak lagi susah-susah melucu.

Minggu, 05 Agustus 2012

Kisah Tentang Seorang Gadis Kecil

When she was a child, she was a great dreamer.

Gadis kecil itu menjadi senang terpenjara dalam rumah, tepatnya sejak orangtuanya membawa ia pindah ke daerah lain. Ia tak punya teman. Ia kesepian. Hari-harinya dihabiskan di sekolah dan di dalam rumah; membaca, menonton, membaca, menonton, dan berimajinasi. Ia tidak suka tidur siang, ia tidak suka bermain bersama teman-teman, ia juga tidak suka merengek-rengek pada Mama untuk dibelikan mainan. Baginya; rumah, setumpuk komik, dan sejuta imajinasi adalah surga kecilnya.

Ia menyukai tokoh Usagi dalam serial televisi Sailor Moon. Pipinya seringkali merona tiap menyaksikan adegan romantis antara Sailor Moon dan Tuxedo Bertopeng. Tubuhnya yang mungil dan lincah tak jarang menirukan apa yang Sailor Moon ataupun Usagi lakukan. Ia cinta Usagi dan Sailor Moon. Mereka adalah teman baiknya. Ia-pun minta dibuatkan kostum Sailor Moon pada Mama. Mama membuatkannya, namun pakaian itu jauh dari ekspektasinya. Akhirnya kostum Sailor Moon hanya menjadi pajangan dalam lemari, tak pernah sekalipun ia pakai.

Gadis kecil itu juga berteman dengan Donal, seekor bebek bodoh yang kehidupannya tak pernah jauh dari kata ‘sial’. Ia mencintai Donal. Ia simpatik pada Donal. Tak tega dengan penderitaan Donal, akhirnya ia-pun menulis surat. Surat itu ia buat diam-diam di dalam kamar, tanpa sepengetahuan siapapun. Ia menanyakan kabar Donal, menanyakan hubungannya dengan Desi, juga memintanya untuk bersabar atas kisah cintanya yang tak pernah berjalan mulus dan atas kebahagiaannya yang selalu direnggut oleh Untung Bebek. Di bagian paling bawah surat itu, ia menulis sebuat kalimat penuh cinta dengan huruf kapital dan tulisan yang besarnya tak karuan: I LOVE YOU DONAL!

Doraemon adalah sahabat terbaik gadis kecil yang kesepian itu. Beberapa belas tahun telah ia habiskan untuk mengagumi Doraemon dan kawan-kawannya. Ketika berada di dalam kamar, ia sering membayangkan sedang bersama Doraemon, Nobita, Shizuka, Suneo, Giant, dan Dekisugi. Bukan mustahil kalau tiba-tiba ia terlihat sedang berbicara sendiri, membayangkan bahwa di hadapannya ada tokoh-tokoh rekaan itu, yang sedang bercengkrama bersamanya.

Lelah dengan segala tokoh-tokoh itu, akhirnya si gadis kecil menciptakan sendiri tokoh khayalannya. Ia membuat komik. Sadar apabila gambarannya tak lebih dari sekedar cacing berbentuk, akhirnya ia menulis cerita. Ia menciptakan seorang gadis yang dapat berkunjung ke dunia peri, yang tak lain adalah interpretasi dari dirinya sendiri. Ia bersahabat dengan peri-peri yang ramah dan baik hati. Dunia peri itu sangatlah indah; tanahnya ditumbuhi pohon dan bunga-bungaan berwarna-warni, langitnya biru tanpa awan, sungainya yang bening berisi ikan mengalir hingga ke penjuru pulau, bukit-bukit indah seperti dalam dunia Teletubbies, dan matahari juga bulan yang dapat berbicara. Gadis kecil itu mencintai dunia barunya. Pagi, siang, dan malam ia habiskan untuk mengatur tokoh ciptaannya. Ia tidak pernah merasa sepuas ini.

***
Beberapa belas tahun kemudian, gadis kecil itu sedang mematung di hadapan layar laptop-nya. Ia membelah otaknya menjadi dua untuk mengorek sisa-sisa kenangan yang kiranya masih tersimpan di sana. Ia rindu hidup dalam imajinasi dan merasa bahagia akan itu. Ia rindu tak merasa kesepian walaupun hari-harinya hanya dihabiskan bersama para tokoh khayalan. Tak terasa air mata jatuh di pipinya. Ia kesepian. Ia masih merasa kesepian.